Gawat, Rusia Ancam Setop Jualan Minyak Mentah

MOSKOW, - Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada Kamis (21/7) mengatakan bahwa Rusia akan berhenti mengekspor minyak ke pasar global jika negara-negara barat memutuskan untuk memberlakukan ambang batas harga minyak. Menurutnya, batas harga tersebut sangat tidak menguntungkan bagi Rusia.

“Jika harga yang mereka bicarakan ini lebih rendah dari biaya produksi minyak… tentu saja Rusia tidak akan menjamin pasokan minyak ini ke pasar dunia, yang berarti kami tidak akan bekerja dengan keuntungan negatif (rugi),” katanya, dikutip oleh TASS.

Sebelumnya, negara-negara anggota G7 sepakat untuk membatasi harga minyak Rusia pada akhir Juni, sebuah gagasan yang pertama kali diajukan oleh Washington sebagai sarana untuk membatasi pendapatan Rusia dari ekspor energi.

Menurut Bloomberg, para pendukung tindakan tersebut sedang membahas kemungkinan membatasi harga yang dibayarkan untuk ekspor Rusia melalui intervensi dalam asuransi dan transportasi minyak negara itu. Menurut rencana, hanya bahan baku dan produk minyak yang nilainya tidak melebihi batas harga yang boleh diasuransikan dan diijinkan untuk diangkut.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida baru-baru ini mengatakan bahwa ambang batas atas akan ditetapkan sekitar setengah dari harga pasar minyak Rusia saat ini. Namun, diskusi tentang masalah ini sedang berlangsung dan batas harga belum diselesaikan.

Pada bulan Juni, harga rata-rata satu barel minyak Rusia adalah sekitar $87,25.

Presiden Rusia Vladimir Putin percaya bahwa batas harga akan membuat harga minyak global justru semakin meroket.

“Hasilnya akan sama – harga minyak akan meroket,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev memperkirakan bahwa harga minyak mungkin akan menembus $300-400 per barel jika negara Barat memberlakukan rencana tersebut.

"Akan ada lebih sedikit minyak di pasar, dan harganya akan jauh lebih tinggi," katanya.



sumber: www.jitunews.com